Penantian Aspal Buton

Aspal Buton pertama kali ditemukan oleh seorang Geolog Belanda yang bernama W.H. Hetzel pada tahun 1924. Perjalanan panjang menuju tahun 2020 sekarang ini adalah tidak mudah. Ada masa-masa jaya, dan ada masa-masa terpuruk. Tetapi sejak tahun 1980-an dimana aspal minyak impor mulai menjadi Primadona jalan-jalan di seluruh Indonesia, ironisnya aspal Buton sudah tidak dipandang sebelah mata lagi. Meskipun aspal Buton sudah berupaya keras untuk bangkit kembali, tetapi kelihatannya semua energi itu sia-sia belaka. Apakah benar demikian ?

Mari kita telaah bersama-sama mengapa aspal Buton sampai sekarang ini masih  belum juga bisa berkembang. Apa masalah dasar yang membuat aspal Buton sulit untuk maju ? Sudah banyak inisiatif dan alternatif yang ditawarkan oleh Pemerintah, tetapi tampaknya aspal Buton masih tetap juga terpuruk. Langkah aspal Buton seolah-olah menemui jalan buntu, sehingga perlu adanya pemikiran-pemikiran kreatif dan ide-ide terobosan baru untuk mencari solusi jitu yang lebih efektif dan efisien. Untuk itu kita perlu mendefinisikan terlebih dahulu apa sebenarnya masalah dasar aspal Buton, dan apa tujuan akhir yang kita inginkan dari aspal Buton. Mari kita sepakati bersama dulu kedua hal ini.

Kita sudah banyak belajar dari pengalaman-pengalaman di masa lalu, bahwa aspal Buton nyatanya kalah bersaing dengan aspal minyak impor. Mungkin fenomena yang terjadi ini yang harus kita pahami dengan seksama. Dalam penggunaannya di lapangan aspal minyak lebih praktis dan lebih disukai dari pada aspal Buton butiran. Karena aspal minyak bentuknya cair, sedangkan aspal Buton butiran bentuknya padat. Dengan demikian agar aspal Buton dapat bersaing dengan aspal minyak impor, maka sekarang ini aspal Buton butiran harus terlebih dahulu diubah bentuknya menjadi aspal Buton cair.

Proses untuk mengubah aspal Buton butiran menjadi aspal Buton cair ini disebut sebagai proses ekstraksi. Proses ekstraksi ini akan menghasilkan aspal Buton “full” ekstraksi yang setara dengan aspal minyak. Apa kelebihan aspal Buton “full” ekstraksi apabila dibandingkan dengan aspal Buton butiran ? Aspal Buton “full” ekstraksi memiliki kandungan bitumen 100%, sedangkan aspal Buton butiran hanya memiliki kandungan bitumen15 — 30%. Kandungan bitumen inilah faktor penentu yang akan menjadi perekat yang kuat dalam campuran aspal.  Dengan demikian aspal Buton “full” ekstraksi sudah tentu akan lebih unggul dari pada aspal Buton butiran, sehingga akan mampu bersaing dengan aspal minyak impor.

Apabila kita semua sudah memahami apa sebenarnya masalah dasar aspal Buton, dan apa tujuan akhir aspal Buton, maka tentu kita akan lebih mudah untuk mencari solusi jitu yang lebih tepat sasaran. Masalah dasar aspal Buton yang sebenarnya adalah aspal Buton nyatanya kalah bersaing dengan aspal minyak impor. Dan tujuan akhir aspal Buton adalah mengubah aspal Buton butiran menjadi aspal Buton “full” ekstraksi yang setara dengan aspal minyak impor. Dengan demikian langkah-langkah strategis untuk menyelesaikan masalah dasar aspal Buton adalah kita harus memproduksi aspal Buton “full” ekstraksi untuk siap diadu dan bersaing dengan aspal minyak impor, baik dari sudut pandang harga, kuantitas, maupun kualitas.

Kesimpulannya, aspal Buton “full” ekstraksi mempunyai potensi yang sangat besar untuk mampu bersaing dan menggantikan aspal minyak impor. Oleh karena itu, sekarang ini adalah tugas dan kewajiban dari Pemerintah untuk merealisasikan pemikiran ini. Pengertian “Pemerintah” dalam hal ini adalah Presiden yang dibantu oleh para Menteri, Gubernur, Bupati, dan semua jajaran instansi Pemerintah yang terkait.

Perlu diingat bahwa usia aspal Buton sudah hampir 100 tahun atau 1 abad. Oleh karena itu urgensinya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Yang perlu kita dorong bersama adalah agar Pemerintah segera bertindak bijak, cepat dan tepat sehingga pada tahun 2024 nanti, yang akan bertepatan dengan 100 tahun atau 1 abad aspal Buton, aspal Buton sudah akan mulai kelihatan bentuk dan arahnya yang jelas untuk mampu melangkah menggantikan aspal minyak impor. Pertanyaan kritis sekarang ini adalah : “Apakah permasalahan aspal Buton begitu sulit untuk dapat diselesaikan oleh Pemerintah, sehingga Presiden memerlukan waktu 1 abad untuk mentuntaskannya ?”.

Aspal Buton adalah kekayaan alam bumi Indonesia yang sangat luar biasa besarnya. Tetapi selama ini nyatanya kalah bersaing dengan aspal minyak impor. Mungkin penyebabnya adalah karena memang kita kurang memiliki rasa nasionalisme dan patriotisme yang membaja, dimana kita masih lebih nyaman menggunakan produk-produk impor dari pada menggunakan produk-produk lokal. Ini pemikiran dasar yang harus kita hapus sama sekali dalam ingatan kita.

Jangan biarkan aspal Buton berjuang sendirian untuk membuktikan bahwa aspal Buton memang sebenarnya mampu menggantikan aspal minyak impor. Karena semangat nasionalisme dan patriotisme adalah hidayah dari Allah swt yang ditanamkan ke dalam hati anak-anak bangsa yang secara sadar sangat mencintai Bangsa, Negara, dan tanah airnya. Kalau para Pahlawan Kemerdekaan kita dulu memiliki semboyan : “Merdeka atau Mati”. Mengapa kita sekarang sebagai anak-anak dan cucu-cucu keturunan para Pahlawan Kemerdekaan, tidak berani mengatakan hal yang sama ? “Merdeka atau Mati”. Perjuangan kita masih belum selesai selama negara kita masih belum “Merdeka” dari penjajahan produk-produk impor.

Penantian aspal Buton untuk “Merdeka” ,dan menjadi “Tuan Rumah di Negeri sendiri” sudah mencapai hampir 100 tahun atau 1 abad. Apakah sekarang ini slogan “Merdeka atau Mati” masih relevan untuk aspal Buton?

 

Sumber  : https://www.kompasiana.com