Aspal Buton Solusi Di Masa Krisis Ekonomi Akibat Pandemi Covid-19?

Merebaknya musibah wabah pandemi Covid 19 di seluruh dunia akan mengakibatkan terjadinya krisis ekonomi yang berkepanjangan. Tidak terkecuali di Indonesia. Apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, tidak bisa kita ramalkan pada saat ini. Mungkin kita terlalu takut untuk membayangkannya, karena kondisinya akan sangat buruk. Banyak perusahaan, usaha, dan Industri yang akan bangkrut, sehingga harus memutuskan hubungan kerja dengan para karyawannya. Dampaknya akan banyak sekali terjadi pengangguran di mana-mana. Harga-harga kebutuhan bahan pokok juga akan naik. Dan tentunya akan mengancam pertumbuhan ekonomi, karena daya beli masyarakat menurun. Kelihatannya para ahli masih belum bisa memastikan kapan musibah pandemi Covid 19 ini akan berakhir. Karena badai Covid 19 sekarang ini sedang berlangsung, dan belum ada tanda-tanda akan mereda. Pemerintah masih harus terus berjuang keras untuk segera mendapatkan penangkal pandemi Covid 19 agar rakyat dapat hidup normal kembali seperti sediakala.

Apa yang ada di dalam pikiran kita, apabila kita membayangkan masa depan Indonesia yang begitu suram akibat diterjang bencana pandemi Covid 19 ini? Haruskan kita berdiam diri saja, dan menjadi penonton yang manis? Atau kita sebaiknya mencari solusi jitu untuk membantu, dan meringankan beban Pemerintah dalam mengatasi masalah krisis ekonomi yang akan terjadi? Kita harus ingat bahwa di setiap kesulitan selalu ada kemudahan. Dan yang paling penting adalah kita harus selalu memberikan harapan-harapan untuk masa depan generasi penerus Bangsa. Anak-anak, cucu-cucu, dan cicit-cicit kita harus hidup lebih baik dari pada hidup kita pada saat ini. Karena mereka adalah harapan kita, dan juga harapan Bangsa.

Krisis ekonomi di Indonesia mungkin akan bisa berlangsung cukup lama. Apalagi dengan banyaknya bidang usaha yang “gulung tikar”, maka akan berakibat banyak sekali pegawai yang akan terkena putus hubungan kerja. Bagaimana kiat dan strategi Pemerintah untuk mengatasi masalah krisis ekonomi yang maha berat ini? Mampukah Indonesia bangkit dari keterpurukan yang sangat parah ini? Ironisnya, industri-industri kita sebagian besar masih sangat bergantung kepada bahan baku produk-produk impor. Sehingga apabila negara-negara pengimpor tersebut mengalami masalah krisis ekonomi juga di negaranya masing-masing, maka dampaknya akan sangat terasa di Indonesia. Untuk bisa bangkit dari krisis ekonomi yang parah ini, kita harus mampu bangkit dengan mengandalkan produk-produk dalam negeri untuk menggantikan produk-produk impor tersebut. Dan tentunya dengan memproduksi produk-produk dalam negeri, maka secara otomatis akan berdampak luas terhadap terciptanya banyak lapangan kerja yang sangat dibutuhkan oleh rakyat Indonesia.

Salah satu produk dalam negeri yang mampu menggantikan produk impor adalah aspal Buton. Sejak tahun 1980-an Indonesia sudah mengimpor 1 juta ton per tahun aspal minyak dengan nilai kurang lebih US$ 500 juta per tahun. Dengan adanya musibah wabah pandemi Covid 19 ini, mungkin sekarang ini sudah tiba saatnya yang paling tepat bagi Pemerintah untuk mulai sadar, peduli, dan paham bahwa potensi aspal Buton adalah sangat besar untuk mampu menggantikan aspal minyak impor. Industri aspal Buton mempunyai potensi yang sangat ideal dan strategis di masa krisis ekonomi untuk menciptakan banyak lapangan kerja yang sangat dibutuhkan oleh rakyat Indonesia. Bagaimana hitung-hitungannya bahwa industri aspal Buton mempunyai potensi yang besar untuk mampu menciptakan banyak lapangan kerja? Ayo, mari kita simak bersama.

Deposit aspal Buton diperkirakan berjumlah 650 juta ton. Kebutuhan aspal Nasional adalah 1,5 juta ton per tahun. Produksi aspal minyak Pertamina sebesar 300-400 ribu ton per tahun. Dan kuota aspal Buton butiran adalah sebesar 100 ribu ton per tahun. Meskipun realisasinya hanya sekitar 30-70 ribu ton per tahun saja. Untuk memenuhi kebutuhan aspal Nasional, maka Pemerintah harus mendatangkan aspal minyak dari luar negeri, atau mengimpor sejumlah 1 juta ton per tahun. Ini berarti bahwa aspal Buton yang harus diproduksi adalah sebesar 1 juta ton per tahun untuk menggantikan 1 juta ton per tahun aspal minyak impor. Dan aspal Buton yang harus diproduksi adalah aspal Buton “full” ekstraksi atau Bitumen Asbuton Murni (BAM). Jadi bukan aspal Buton granular seperti yang biasa digunakan sekarang ini. Teknologi untuk memproduksi Bitumen Asbuton Murni (BAM) secara handal, ekonomis, dan ramah lingkungan sekarang sudah ada.

Untuk memproduksi 1 juta ton per tahun Bitumen Asbuton Murni (BAM) dibutuhkan 5 juta ton per tahun bahan baku batuan aspal Buton, dengan asumsi kandungan bitumen rata-ratanya adalah 20%. Dengan demikian kebutuhan bahan baku batuan aspal Buton akan meningkat secara signifikan; yaitu dari 100 ribu ton per tahun menjadi 5 juta ton per tahun, atau terjadi peningkatan sebesar 5000%. Dari angka-angka ini dapat kita hitung lebih rinci lagi berapa banyak kebutuhan tenaga kerja yang sebenarnya diperlukan untuk kegiatan operasi penambangan saja. Ini belum termasuk kebutuhan tenaga kerja untuk keperluan-keperluan lain; seperti sarana pendukung operasi dan produksi, transportasi, pabrik ekstraksi, pemasaran, logistik, dan mitra kerja pengadaan barang dan jasa. Dan masih banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu per satu; seperti untuk pengadaan fasilitas perumahan, rumah sakit, sekolah, pasar, sarana rekreasi, dll. Hal ini akan sangat terkait dengan rencana pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang sekarang ini sedang diperjuangkan oleh Pemerintah Daerah Sulawesi Tenggara.

Tantangan aspal Buton akan semakin besar dan nyata dalam kondisi krisis ekonomi akibat wabah pandemi Covid 19 seperti yang sedang terjadi sekarang. Tentunya untuk dapat memproduksi 1 juta ton per tahun Bitumen Aspal Murni (BAM) tidak dapat dilakukan secara instant. Oleh karena itu Pemerintah harus mengkaji secara seksama apakah ada alternatif-alternatif lain yang lebih baik selain dari pada pembangunan industri aspal Buton ini. Industri aspal Buton ini akan mampu menciptakan banyak lapangan kerja dalam waktu yang tidak terlalu lama. Dan Bitumen Asbuton Murni (BAM) yang akan dihasilkan akan digunakan untuk membangun jalan-jalan di seluruh Indonesia untuk menggerakkan roda perekonomian. Termasuk untuk pembangunan jalan-jalan di Ibu Kota yang baru di Kalimantan Timur. Mungkin ini merupakan suatu berkah dari Allah swt bahwa di setiap kesulitan selalu ada kemudahan. Dan kesulitan itu adalah berupa musibah pandemi Covid 19. Sedangkan kemudahannya itu adalah berupa pembangunan industri aspal Buton.

Untuk membangun industri aspal Buton dengan kapasitas 1 juta ton per tahun diperlukan dana investasi yang cukup besar. Disini peranan para Investor asing yang sangat menentukan. Namun peranan Pemerintah juga tidak kalah pentingnya agar para Investor tersebut mau dan tertarik untuk berinvestasi di bidang Industri Aspal Buton yang sudah menanti sejak 1 abad yang lalu. Investor-investor asing memiliki banyak opsi untuk menginvestasikan dananya di bidang-bidang lain, baik di Indonesia maupun di negara-negara lain. Untuk itu pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industri Aspal Buton harus dirancang sedemikian rupa sehingga mampu bersaing dengan Proyek-proyek lain di Indonesia maupun di dunia agar para Investor akan berlomba-lomba untuk berinvestasi di Pulau Buton. Bukan saja hanya untuk keperluan Industri Aspal Buton, tetapi juga untuk keperluan industri-industri lain; seperti pembangunan infrastruktur, industri perikanan, industri Pariwisata, dll.

Bencana wabah pandemi Covid 19 pada suatu saat pasti akan berlalu. Mudah-mudahan tidak akan terlalu lama lagi. Tetapi sebaiknya mulai dari sekarang Pemerintah sudah harus mulai bersiap-siap diri untuk segera bangkit dengan lompatan yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya agar trauma akibat pandemi Covid 19 ini akan dapat terobati. Untuk itu Pemerintah wajib menerapkan prinsip-prinsip manajeman “Ekonomi Politik” yang cerdas dan tepat sasaran untuk mampu mengatasi masalah krisis ekonomi yang sangat parah akibat wabah pandemi Covid 19 ini. Kepentingan rakyat kecil sudah tentu harus menjadi pertimbangan pertama dan utama. Rakyat menuntut tindakan nyata, dan bukan hanya sekedar wacana. Yakinlah, bahwa di setiap kesulitan selalu ada kemudahan. Selamat tinggal pandemi Covid 19. Selamat datang industri aspal Buton?.

 

Sumber :  https://www.kompasiana.com